Hingga tibalah saat sang guru membuka suara.

“Belum selesai” Ucap sang guru, meski pelan namun sangat jelas didengar.

“Hampir. Maka selesaikanlah!” sambung sang gurunya lagi masih dengan nada suara yang sama.

Jawaban sang guru yang sangat singkat dan padat tersebut telah membuat sang murid merasa heran, bangga dan bingung.
Heran mengapa gurunya berkata “Belum selesai” sedangkan ia merasa bahwa pelajaran yang telah ia dapat sudah sangat banyak namun mengapa masih belum selesai juga?
Bangga karena gurunya berkata “Hampir”, itu tandanya ia tidak salah mengambil pelajaran selama ini dan hanya tinggal meneruskan pelajarannya sedikit lagi.
Dan bingung begitu gurunya berkata “Maka selesaikanlah!”. Apa lagi yang harus dipelajari ditengah hutan sana dan bagaimana menyelesaikannya?.
Semua rasa bercampur aduk aduk dalam pikirannya. Akan tetapi sang murid tidak sedikitpun merasa kecewa atas usahanya selama ini, karena ia tahu bahwa berhasil atau tidaknya, ilmu yang telah ia dapatkan tak ternilai harganya dan juga sama sekali bukan untuk gurunya melainkan untuk dirinya kelak.

Mendengar jawaban singkat sang guru, muridnya pun tak bisa berkata sepatah katapun. Kepala tertunduk dalam berusaha membaca apa yang dimaksud sang guru.

Ia pun kembali kehutan untuk belatih mendengar lebih teliti lagi, karena ia tahu bahwa yang kurang dan harus diselesaikan secara tuntas adalah ilmu pendengarannya saja. Sebab sang guru tersenyum begitu mendengar pelajaran yang ia petik dari suara alam. Tidak mendengarkan dengan telinga saja melainkan dengan sanubari hati.

Setibanya dihutan, ia duduk termenung beberapa saat. Waktu berjalan terasa lebih lambat dari biasanya. Ia memulai meditasinya dengan perlahan-pelahan menyimak suara alam lebih dalam lagi. Awal-awal ia tidak menemukan suatu suara yang baru, meski demikian hal itu terus dilakukannya setiap hari, pagi-siang-malam.

Hingga tiba disuatu pagi, sang murid pun mulai merasakan nuansa baru dalam dirinya. Nuansa yang selama ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Nuansa yang sangat menggetarkan lubuk hatinya yang paling dalam.

dsdaa

“Ya! Aku mendengarnya!” Ucap sang murid dengan sangat yakin.

Ia pun terus menikmati nuansa yang baru ia rasakan seumur hidupnya tersebut hingga sampai matahari terbenam bahkan kembali terbit. Ia merasa sangat senang, sedih dan haru karena telah merasa menemukan jawaban dari persoalan yang gurunya berikan. Lantas ia bergegas pergi menemukan gurunya kembali.

Dengan rona wajah yang terlihat puas, ia mulai bercerita kepada gurunya tentang apa yang telah ia dapat pelajari di tengah hutan sana.

“Guru, aku dapat mendengarnya! Aku mendengarkan suara yang tidak terdengar” ucap sang murid dengan riang.

“Teruskan!” jawab sang guru sama sekali tidak terlihat heran melainkan ikut ada rasa senang juga.

“Saat aku mencoba mendengarkan alam, Aku mendengar suara yang tidak terdengar” sang murid mengulangi perkataannya cuma lebih diperjelas dari sebelumnya.

“Awalnya aku mendengar suara matahari yang menyapa seluruh makhluk di tengah hutan, memanggil tetesan bening embun yang tertinggal direrumputan untuk mengantarkannya agar kembali pulang ke awan. Lalu aku mendengar suara kuncup bunga yang sedang mekar dikelilingi oleh kupu-kupu yang menari-nari dan juga gelak tawa pepohonan yang ikut bersenandung ria sehingga membuatku terlena karena ulah mereka yang sangat mempesona” sabungnya tanpa henti.

“Selain itu aku juga mendengar suara senyuman rumput yang memenuhi seisi hutan. Dan..” tiba-tiba cerita sang murid baru terhenti sejenak.

“Teruskan” ucap sang guru yang masih ingin mendengarkan cerita muridnya.

“Aku mendengar ada suara pohon-pohon yang menangis kesakitan karena dirinya sudah mulai rapuh digerogoti rayap dan aku juga mendengar tangisan batang-batang berduri yang merasa kesepian karena dijauhi oleh teman-teman tanaman dan hewan lainnya.” murid itu tertunduk merasakan kesedihan yang masih tersisa dari kejadian tersebut.

Tampak senyuman bangga terlihat diraut wajah sang guru sehingga tanpa sadar sang murid dapat mengurung rasa sedihannya tersebut.

Sang guru akhirnya berkata, “Anak muridku, kau sudah berhasil mempelajari ilmu kepemimpinan sejati. Kau telah mampu mendengar ‘suara yang tidak terdengar’ dengan begitu kau sudah layak untuk meneruskan tugas ayahmu menjadi seorang raja”.

Sang murid yang mendengar perkataan dari gurunya tersebut tidak bisa berkata apa-apa. Rasa puas, sedih, senang dan haru menjadi satu yang membuat ia membisu.

“Hanya orang-orang yang sanggup mendengar suara-suara rakyatlah yang layak untuk menjadi pemimpin. Sesosok orang seperti dirimu lah yang bisa merasakan perasaan rakyat yang akan kau pimpin. Karena engkau sudah mampu meraba dan mendengar suara riang dan keluh kesah yang tidak terdengar itu” kata sang guru melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti sejenak.

“Kau harus terus mampu menyimak kata-kata meski tak terucap, merasakan perasaan meski tidak terungkapkan seperti kesedihan dan kesenangan yang tak tersalurkan. Karena katahuilah nak, kerajaan yang besar akan binasa bilamana rajanya hanya bisa mendengar sebatas apa yang terlihat dan terlontarkan saja. Sebuah negara akan hancur ketika pemimpinnya tak mau berusaha atau tak sanggup masuk kedalam relung hati rakyatnya yang terdalam untuk merasakan hasrat yang terdapat didalamnya” pesan dari sang guru yang sangat menyentuh hati muridnya.

Sang murid sangat menyimak dengan sangat teliti setiap kata yang terlontar dari gurunya namun ia malah semakin tidak bisa berkata apa-apa.

“Sekarang bergegaslah engkau untuk pulang, Nak. Rakyatmu telah menanti” perintah sang guru dengan lembut melepas kepergian muridnya yang telah berhasil mempelajari seni kepemimpinan sejati untuk agar layak menjadi seorang raja yang cintai rakyatnya.

Sang putra mahkota pun akhirnya kembali pulang ke istana dimana ayahnya tinggal. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mengecewakan ayahnya, gurunya terutama kepada cinta sejati yang baru saja hadir kedalam hatinya, yakni rakyatnya.

By Rahmlie

Leave a Reply