Alkisah ada sebuah negara kecil yang sangat sejahtera. Saking sejahteranya tingkat kejahatan di negara tersebut sangat minim sekali, bahkan sampai bisa dikatakan tidak ada. Semua penduduknya hidup dalam kerukunan dan keharmonisan. Bagaimana tidak, negara tersebut dipimpin oleh seorang Raja yang sangat adil dan bijaksana sehingga mulai dari rakyat sampai para mentri kerajaan hormat dan tunduk patuh padanya.

skazochne-mesta-iz-disneevskix-multfilmov-i-ix-realnye-proobrazy-1

Suatu ketika sang Raja mengetahui bahwa dirinya mengidam suatu penyakit, meski tidak terlalu mematikan namun ia sadar bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa tahun lagi didunia. Mengetahui kondisi seperti itu, sang Raja sadar untuk harus segera menyiapkan calon pewaris tahta mahkota kerjaan demi berlangsungnya kesejahteraan negaranya. Karena saking besarnya cinta sang Raja kepada rakyatnya, Ia tidak ingin sembarangan mewariskan tahta kerajaan kepada putranya dengan begitu saja. Ia ingin putra mahkotanya memiliki kebijakan hati dan pikiran untuk dijadikan sebagai pewaris kerajaan kelak setelah ia meninggal.

Pada saat sang Raja berpikir bagaimana cara mengajari putranya agar dapat menjadi sesosok pemimpin sejati, ia teringat kepada orang tua bijak yang dulu pernah mengajarinya seni kepemimpinan sehingga ia bisa menjadi seorang Raja yang dicintai rakyatnya. Meski telah ia ketahui bahwa orang tua tersebut sudah sangat tua, namun ia yakin bahwa beliau tetap bisa mengajarkan dan mempunyai cara tersendiri dalam memberi pelajaran ke anak didiknya, sehingga ilmu yang diajarkan dapat meresap dan tumbuh subur ke dalam sanubari hati.

Walaupun ia adalah seorang Raja yang berkuasa memberikan titah kepada seluruh rakyatnya, ia tidak serta merta mengirimkan langsung putranya kepada orang tua bijak tersebut untuk segera didik melainkan mengutus prajurit kerajaan terlebih dahulu untuk menemui orang tua bijak tersebut dan menyampaikan sekaligus meminta restu dari darinya agar bersudi hati untuk dijadikan guru dan mengajarkan seni kepemimpinan kepada sang putra mahkota. Akhirnya orang tua bijak itupun menyetujuinya. Lalu bertemulah putra mahkota dengan orang tua bijak tersebut dan jadilah mereka layaknya guru dan murid.

Singkat cerita, sang guru membawa pergi putra mahkota ke tengah hutan. Setibanya mereka dihutan, segeralah mereka mendirikan saung yang amat kecil dan sederhana yang hanya cukup untuk ditempati oleh seorang saja. Setelah saung selesai didirikan, berkatalah sang guru kepada muridnya “Nak, tinggallah kamu seorang diri dalam hutan ini, bermeditasilah dalam alam ini kelak kau akan mengerti dan memahami arti kepemimpinan yang sejati. Temuilah aku kembali ketika kau sudah bisa mengambil hikmah pelajaran dan meresapnya kedalam hatimu.”

Putra mahkota tampak sedikit terheran. Namun ia teringat titah sang Raja kepadanya untuk menjalani apapun yang diperintahkan sang guru dalam mempelajari hakikat ilmu tersebut. Sebagai putra mahkota, tentu ia memegang teguh titah sang Raja, sehingga perintah sang guru di jalankannya tanpa ada pertanyaan maupun bantahan sedikitpun.

Hari berlalu hari hingga berganti musim, tidak terasa sudah hampir setahun ia tinggal di dalam hutan tersebut. Sudah sangat banyak memang pelajaran yang ia petik selama ini namun ia masih belum juga menemukan dan merasakan puncak dari ilmu hakikat kepemimpinan seperti yang dimaksudkan sang guru. Hingga tiba suatu hari dimana ia merasakan ketentraman yang menyejukkan hati yang tidak seperti biasanya. Ketentraman yang timbul tiba-tiba ketika ia mendengar suara kicauan burung yang bernyanyi bersahutan, gemerisik dedaunan akibat terpaan angin yang juga membuat rumput-rumput ikut menari dan bergoyang. Suara tersebut memang selalu ada setiap hari namun kali ini ia merasakan beda. Biasanya ia dengar hanya masuk sampai telinganya saja akan tetapi kali ini hatinya pun juga ikut mendengar dan merasakannya.

“Dapat!” ucap sang putra mahkota dalam hati sambil tersenyum lega.

Merasa sudah dapat menemukan dan memahami puncak ilmu kepemimpinan yang ia pelajari selama ini, ia pun lekas pergi meninggalkan hutan menuju kesuatu tempat dimana gurunya berada.

Setibanya sang murid dikediaman gurunya, ia pun langsung mengutarakan segala hal apa yang telah ia pelajari selama tinggal dan bermeditasi di tengah hutan sana. Sang guru yang mendengar semua penjabaran dari pelajaran yang muridnya dapatkan selama ini hanya menyimak dan angguk-anggukan kecil saja. Ekspreasi wajah sang guru tidak ada berubah dari saat sebelum mendengarkan.

Sang murid terus saja menjabarkan, hingga sampai ke hal terakhir dimana pelajaran tentang pendengaran yang masuk ke sanubari hatinya. Ketika mengetahui pelajaran yang muridnya terima itu, senyuman kecil baru terlihat di raut wajah gurunya. Sang murid yang melihat ekspresi gurunya yang seolah memberikan sinyal tanda keberhasilan membuat ia tidak sabar ingin mendengar jawaban dan komentar gurunya.

Selepas itu, suasana menjadi hening seketika. Sang murid yang pendengaran telinga dan hatinya yang sudah mulai tajam, belum juga mendengar sepatah katapun dari gurunya malah hanya mendengar suara gemerisik pasir dari jam pasir yang terletak di sudut ruangan.

Sedetik saja yang berlalu ketika menunggu jawaban dari sang guru, bagaikan setahun lamanya hidup ditengah hutan. Namun, sang guru masih saja terdiam hingga beberapa detik, membuat rasa penasaran muridnya semakin menjadi-jadi.

(Bersambung..)

By Rahmlie

Leave a Reply