amirul & hagia sophia

Keputusan Erdoğan menetapkan Hagia Sophia menjadi masjid sangat politis. Ia mengesampingkan keteladanan salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ, yakni Umar bin al-Khattab (رضي الله عنه), yang menjadi khalifah kedua pasca-wafatnya nabi ﷺ.

Khalifah Umar Menolak Salat di Gereja.

Jurnalis dan pemerhati politik Islam Mustafa Akyol dalam kolomnya di The New York Times, 20 Juli 2020 bertajuk “Would the Prophet Muhammad Convert Hagia Sophia?[1], menguraikan, keputusan Erdoğan bisa membuka bab baru dari cerita lama Islam versus Nasrani. Padahal di masa lalu, orang-orang pemeluk monoteisme seperti Nasrani dan Yahudi selalu dianggap sekutu dan sahabat oleh nabi.

“Jadi ketika Nabi Muhammad ﷺ dan para pengikutnya yang masih sekelompok kecil dipersekusi di Makkah oleh para penyembah berhala, beberapa dari mereka mendapat suaka di kerajaan Nasrani di negeri Habasyah (sekarang dikenal dengan Ethiopia). Ketika Rasulullah memerintah di Madinah, Beliau menyambut para pemeluk Nasrani dari Kota Najran untuk beribadah di masjidnya,” ungkap Akyol.

“Nabi ﷺ juga membuat perjanjian dengan mereka yang isinya: ‘Tidak boleh ada pelarangan terkait peribadahan mereka. Tidak akan ada uskup yang dicabut dari keuskupannya, tidak ada biarawan yang diusir dari biaranya, maupun pendeta dari parokinya’,” lanjutnya.

Teladan Rasulullah ﷺ menghargai agama lain kembali dicontohkan Umar bin Khattab (رضي الله عنه). Khalifah kedua setelah Abu BakarAl-Siddiq” (رضي الله عنه) itu memerintah dalam kurun 10 tahun (634-644 M).

Menurut Profesor Daniel J. Sahas, peneliti sejarah Islam dari Universitas Waterloo, Ontario, dalam “The Face to Face Encounter between Patriarch Sophronius of Jerusalem and the Caliph Umar Ibn al-Khattab: Friends or Foes?” yang dimuat dalam The Encounter of Eastern Christianity with Early Islam, Khalifah Umar datang ke Yerusalem seorang diri atas permintaan Patriark Sophronius. Itu terjadi setelah ia menolak menyetujui kapitulasi yang ditawarkan Abu Ubaidah bin Jarrah, panglima pasukan Muslim yang sebelumnya mengepung Yerusalem.

Sang patriark memberi syarat bahwa ia bersedia menyerahkan Yerusalem jika Khalifah Umar sendiri yang datang dan menerima penyerahan tanpa syarat itu. Permintaan Patriark Sophronius, disebutkan Sahas, bukan tanpa alasan. Permintaan itu sebagai simbol ketidaksenangannya terhadap Abu Ubaidah yang sempat mengancam akan menghancurkan setiap rumah ibadah jika Yerusalem harus direbut secara paksa.

“Alasan lainnya adalah Sophronius ingin melihat sendiri kualitas seorang Umar yang berjuluk Amirul Mukminin. Lainnya adalah Sophronius ingin penyerahan Yerusalem dilakukan dengan proses seremonial resmi, mengingat pentingnya kesucian Yerusalem. Umar yang menerima kabar permintaan itu ketika berada di Suriah, menyanggupi dan datang dengan menunggang unta,” tulis Sahas.

Khalifah Umar kemudian berkemah di Bukit Zaitun (3,5 km timur dari kota tua Yerusalem) dan di situlah kapitulasi Yerusalem ditandatangani pada Februari 638. Menurut catatan Patriark Euthychius yang dituliskan pada tahun 876 dan dikutip Sahas, Patriark Sophronius turut mengantar Umar ke gerbang Yerusalem dan mengiringi sang Amirul Mukminin kala berkeliling ke sejumlah tempat suci di kota tua Yerusalem.

Ilustrasi Khalifah Umar (kanan memegang tongkat) saat masuk ke gerbang kota Yerusalem di salah satu episode seri TV "Omar"

“Setelah melewati gerbang, Umar mendatangi dan duduk di serambi Gereja Makam Kudus. Kala menjelang waktu shalat (Dzuhur), Umar berkata: ‘Aku ingin shalat.’ Dan dia (Sophronius) menjawab: ‘Ya Amirul Mukminin, shalatlah di sini!’ Dan Umar berkata: ‘Aku tidak ingin shalat di sini.’ Patriark lalu mengantarnya ke dalam gereja itu dan menggelar tikar di lantai gereja. Tetapi Umar berkata: ‘Aku juga tak ingin shalat di sini’,” kutip Sahas.

“Lalu Beliau (Umar) keluar menuju gerbang timur gereja dan Beliau mendirikan shalat sendirian di atas rerumputan. Selepasnya, ia duduk bersama Patriark Sophronius. ‘Patriark, apa engkau tahu kenapa aku tak shalat di dalam gereja?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak tahu, wahai Amirul Mukminin.’ Umar berkata: ‘Apabila aku shalat di dalam gereja, Engkau akan kehilangan gereja itu karena setelah kematianku, kaum Muslimin akan merebutnya dengan mengatakan: ‘Umar pernah shalat di sini.’ Tetapi berikanlah aku selembar perkamen untuk menuliskan sebuah dokumen!’”

Dokumen yang dituliskan Khalifah Umar intinya berisi bahwa kaum Muslimin dilarang mengumandangkan adzan dan mendirikan shalat di tempat umat Nasrani beribadah. Kemudian, disebutkan F. E. Peters dalam Jerusalem: The Holy City in the Eyes of Chroniclers, Khalifah Umar meminta tempat untuk didirikan masjid di kompleks suci itu.

“Sophronius berkata: ‘Aku akan memberikan Amirul Mukminin sebuah tempat untuk mendirikan tempat ibadah, di mana para raja Romawi tak sanggup membangunnya. Tempat di mana terdapat sebuah batu yang dahulu (Nabi) Yakub berbicara pada Tuhan dan tempat di mana Yakub menyebutnya gerbang surga dan Bani Israil menyebutnya tempat paling suci (jejak-jejak Menorah). Tempatnya berada di tengah-tengah dunia’,” ungkap Peters.

Ilustrasi Khalifah Umar (tengah) dalam seri "Omar" yang memilih tempat shalat di luar lingkungan gereja, tepatnya di timur Gereja Makam Kudus

Sophronius kemudian menjelaskan bahwa tempat itu sudah terbengkalai dan kini tertutup pasir dan tanah oleh orang Romawi. Ia tak dijadikan gereja karena Yesus Kristus berkata bahwa Dia takkan meletakkan batu di atas batu yang takkan bisa dihancurkan. Oleh karenanya, umat Nasrani meninggalkannya sebagai reruntuhan.

Umar lalu mengambil tanah itu, membersihkannya menggunakan jubahnya sebelum melemparkannya ke Lembah Gehenna, dan diikuti kaum Muslimin sampai tempat itu bersih dan batunya tampak.

Setelah batu itu dipindahkan, tempat itupun dibangun masjid yang hingga kini dikenal sebagai Masjid Umar. Letaknya tak jauh dari gerbang timur Gereja Makam Kudus. Tetapi sejak 1193, masjidnya dipindah ke selatan gereja seiring berubahnya gerbang gereja ke arah yang sama sebagai imbas perbaikan usai beberapa kali hancur oleh konflik di abad ke-11.

Salahuddin Menjaga Gereja

Masjid Umar dibangun kembali pada 1193 oleh Emir Damaskus Al-Afdal bin Salahuddin, putra Sultan SalahuddinSang penakluk Yerusalem” dalam Perang Salib III (1187). Sebagaimana Khalifah Umar, Salahuddin al-Ayyub tak menistakan satupun gereja ketika Yerusalem sudah berada di bawah kekuasaannya.

Salahuddin merebut Yerusalem dan masuk ke gerbang kota suci itu pada 2 Oktober 1187 atau 27 Rajab 583 Hijriah, bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ. Mengutip Sir Walter Besant dan Edward Henry Palmer dalam Jerusalem, the City of Herod and Saladin, sang sultan sempat menutup semua gereja, termasuk Gereja Makam Kudus, untuk menggelar diskusi dengan para pengikutnya guna menentukan apa yang akan dilakukan terhadap situs-situs Nasrani.

Sementara, sejumlah situs suci Islam ia perbaiki dan kembalikan fungsinya sebagai rumah ibadah. Salah satunya, Qubbat al-Sakhrah (Dome of the Rock), masjid yang dibangun pada 691 di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Salib emas yang dipasang para Ksatria Templar di masjid itu dicopot. Pun begitu dengan yang berada di Masjid al-Aqsa dan Masjid Umar.

Ilustrasi Sultan Salahuddin dalam film "Kingdom of Heaven" yang memilih tak menghancurkan gereja-gereja di Yerusalem setelah direbutnya pada 1187

Sementara itu, umat Katolik bersama sisa-sisa pasukan Salib pergi setelah dijamin Salahuddin dengan bisa keluar hidup-hidup pasca-kapitulasi sehingga yang tersisa hanyalah budak-budak yang terbebas dan umat Kristen Ortodoks. Gereja-gereja yang mereka tinggalkan juga mendapat perhatian.

“Gereja Makam Kudus jadi perhatian khusus. Banyak para pengikut Salahuddin menyarankannya untuk dihancurkan. Akan tetapi berkat pertimbangan matang sultan dan kisah keteladanan (Khalifah) Umar yang ia kemukakan, nasihat-nasihat pengikutnya (untuk menghancurkan gereja) tak ia jalankan,” tulis Sir Walter dan Palmer.

Setelah tiga hari itu, Gereja Makam Kudus kembali dibuka dan Salahuddin mengizinkan umat Nasrani manapun untuk menziarahinya. Para penganut Kristen Ortodoks dan Koptik pun diperkenankan untuk tetap menjalani ritual-ritual di situs-situs suci mereka yang sebelumnya sebagian situs Ortodoks dikuasai umat Katolik Roma seiring berdirnya Kerajaan Yerusalem (1099-1187).

Kaisar Byzantium Isaac II mengirim surat untuk memberi ucapan selamat kepada Salahuddin dan memintanya mengembalikan semua gereja di kota (Yerusalem) kepada para agamawan Ortodoks dan semua kebaktian mereka bisa dilaksanakan dalam tata peribadatan Ortodoks Yunani. Permintaan itu dikabulkan Salahuddin, di mana semua urusan gereja diserahkan ke Patriark Konstantinopel,” singkap Maher Abu-Munshar dalam Islamic Jerusalem and its Christianity: A History of Tolerance and Tensions.

sumber: historia.id

Leave a Reply