Baca judulnya, orang selewat akan nuduh si penulis ini pembela kafir yang suka nyinyirin agama sendiri. Begitulah kalau tak kenal. Tak kenal maka taktiktuktiktaktiktuk suara sepatu kuda. 🤣


Innalillahi…

Ada yang gegabah membandingkan Erdogan dengan Raja Najasyi (Raja Kristen-Ortodoks di Habasyah era Nabi صلى الله عليه وسلم yang melindungi para sahabat di era hijrah yang kemudian masuk Islam). Tak habis pikir pemuja Erdogan bisa sampai sebegitunya. Merendahkan level sahabat. Ge-ga-bah dan sungguh keterlaluan.

(Raja Najasyi atau Ashamah bin Abjar (رضي الله عنه). digolongkan kelas sahabat di sini karena ia masuk Islam, hidup sezaman, dan ada interaksi pribadi dengan Nabi ﷺ meski hanya lewat surat dan via utusan kedua belah pihak)

Sebenarnya serangkaian tulisan kontra-pemasjidan Hagia Sophia beberapa hari kemarin sudah dirasa cukup sebagai pengimbang dan pemantik iqra, tetapi begitu muncul tulisan pemuja Erdogan tadi, mau tak mau pedang pena ini dihunus kembali. Ciaat 🗡


Di awal tulisannya dia bilang bahwa tulisannya bukan untuk membandingkan kedua tokoh tersebut. Tapi hey, dari judul sampai isi tulisanmu itu nyata² pembandingan. Tulisan kali ini juga pembandingan, tapi legal dan halal karena sifatnya menunjukkan hal keadaan sebenarnya.

■ Pemuja Erdogan bilang:
Raja Najasyi menyembunyikan keislamannya karena ia khawatir dikudeta atau dibunuh. Intinya keislaman Sang Raja itu “mubazir” karena hanya berguna untuk dirinya sendiri,

Sedangkan katanya;
Erdogan juga posisinya penguasa yang dikepung lingkaran sekular, tapi berani terang²an melawan penindasan terhadap Islam di negerinya dan Erdogan tahu risikonya dikudeta seperti 2016 lalu.

● Benarkah faktanya seperti itu?

TIDAK. Fakta yang sebenarnya justru SEBALIKNYA:

~• Islam di Turki tidak tertindas, bahkan wajah Islam ditunjukkan secara beringas di sana.
~• Erdogan justeru pengecut yang takut dilengserkan sampai² dia mengkudeta Turki demi langgeng berkuasa. <~ ini menambah daftar panjang tabiat culas etnis Turk yang pernah disampaikan di judul: Hagia Sophia & Srebrenica: Siasat Adu Domba Turki.

Tulisan ini akan menelanjangi Erdogan sampai ke kolor²nya biar nyaho kamu, Ferguso (baca: pemuja Erdogan).

■ Fakta Sejarah Raja Najasyi:

Raja Najasyi tidak menyembunyikan keislaman dan mengatasi upaya kudeta dengan kecerdasan level ulil-albab. Begini detail peristiwa sejarahnya:

~• Ketika utusan kafir Quraish menghasut bahwa ajaran Nabi Muhammad ﷺ menistakan kedudukan Nabi Isa (عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ), Raja Najasyi memanggil utusan kaum muslim dan bertanya, “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”

Sahabat Ja’far bin Abi Thalib (رضي الله عنه) menjawab, “Kami mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi ﷺ”. Najasyi berkata, “Bagaimana kata-katanya?” Ja’far menjawab, “Beliau berkata bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allâḥ. Dia merupakan Kalimatullâḥ yang diletakkan pada diri Maryam, seorang perawan suci.”

Najasyi berkata, “Demi Allâḥ, tidak ada pendapat kalian yang salah tentang Isa seujung rambutpun.”

Terdengar bisikan uskup-uskup yang terkesan mengingkarinya. Najasyi memandang mereka dengan tajam lalu berkata tegas, “Aku tidak peduli dengan apa yang kalian bisikkan.”

⇑ Perhatikan bagian tadi jelas menunjukkan sikap terang²an Raja Najasyi ⇑

Beliau berkata kepada Ja’far dan kawan-kawannya, “Kalian boleh tinggal dengan aman di negeriku. Barangsiapa berani mengganggu kalian akan aku tindak dengan tegas. Aku tidak sudi disuap dengan segunung emas untuk mengganggu seorang pun di antara kalian.”

Beliau perintahkan kepada pengawalnya, “Kembalikan hadiah-hadiah dari Amru bin Ash dan kawannya itu. Aku tidak membutuhkannya. Allâḥ tidak menerima suap dariku ketika aku dikembalikan ke negeriku, untuk apa aku menerima suap dari mereka ini?”

Berikut ini ilustrasi saat dialog sangat bersejarah, Ja’far dengan Raja Najasyi yang di adegankan pada sebuah film, judul The Message ⇒


~• Upaya kudeta atas Raja Najasyi benar² terjadi dan ini cara beliau r.a. menghadapinya:

Najasyi mengabarkan situasi negeri kepada Ja’far bin Abi Thalib dan menyerahkan dua buah kapal. Setelah siap menghadapi para pembangkang, dikatakannya kepada kaum muslimin, “Naiklah kalian ke kapal itu, amati perkembangannya. Bila aku kalah, pergilah ke mana kalian suka. Tapi kalau aku menang, kalian boleh kambali dalam perlindungan seperti semula.”

Selanjutnya Raja Najasyi mengambil sehelai kulit kijang dan menuliskan di atasnya, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allâḥ dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya yang ditiupkan kepada Maryam.” Dipakainya tulisan itu di dada, kemudian dia mengenakan pakaian perangnya dan pergi bersama prajuritnya.

Berdirilah Najasyi menghadapi para penentangnya. Dia berkata, “Wahai rakyat Habasyah, katakanlah, bagaimana perlakuanku kepada kalian?” mereka menjawab, “Sangat baik, Tuanku.” Najasyi berkata, “Lalu mengapa kalian menentangku?”

Mereka berkata, “Karena Anda telah keluar dari agama kita dan mengatakan bahwa Isa adalah seorang hamba.” Najasyi berkata, “Bagaimana menurut kalian sendiri?” Mereka menjawab, “Dia adalah putra Allâḥ.”

Maka Najasyi mengeluarkan tulisan yang diapakainya di dada, diletakkan di atas meja dan berkata, “Aku bersaksi bahwa Isa bin Maryam tidaklah lebih dari yang tertulis di sini.” Di luar dugaan, ternyata rakyat menerima dengan senang pernyataan Najasyi. Mereka membubarkan diri dengan lega. (Shuwaru min Hayati at-Tabi’in oleh Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya diterjemahkan oleh Abu Umar Abdillah, Pustaka At-Tibyan, 2009)

⇑ Perhatikan!! Di sebelah mananya Raja Najasyi menyembunyikan keislamannya?! ⇑


Lebih lanjut, Erdogan-lover tadi secara tidak langsung mengarahkan pada pemahaman bahwa ajaran nasrani (baca: Kristen Ortodoks) itu “agama nenek moyang”. Hey, kalo kejawen, sunda wiwitan, atau penyembahan lata-uzza boleh kamu sebut agama nenek moyang?!. Sembarangan dikau.

Sekarang kita beralih pada “Keunggulan” Erdogan atas Raja Najasyi (Ashamah bin Abjar رضي الله عنه) menurut versi Erdogan-lover tadi.

Silakan klik ~> halaman 2.

Leave a Reply